Komunal Brand Sebagai Benteng UKM Hadapi Serangan Produk Asing Saat MEA

Apakah Anda tahu Komunal Brand? Arti kata Komunal menurut KBBI adalah milik rakyat atau umum. Jadi, pengertian Komunal Brand adalah Brand milik rakyat atau milik bersama dalam sebuah komunitas. Komunal Brand milik rakyat atau umum bisa terjadi pada komunitas bangsa, propinsi, kota, desa, bahkan kampung atau gang. Istilah ini saya ciptakan sendiri berdasarkan pengamatan.

Oh ya, salah satu cara menciptakan Komunal Brand adalah dengan melihat potensi budaya dan tradisi unik yang ada di daerah tersebut.

Saya akan memberi contoh. Misalnya, American Dreamî adalah Komunal Brand milik komunitas bangsa Amerika. Nah, apakah Anda mulai bertanya-tanya, apakah ada Komunal Brand milik rakyat Indonesia? Gotong Royong? Jam karet? Silakan Anda jawab sendiri.

Dalam tataran di bawah negara, ada beberapa Komunal Brand milik komunitas kota seperti Loempia Semarang, Asinan Bogor, Bika Ambon Medan, Palubasa Makasar, dan lain-lain. Anda familiar dengan nama-nama itu kan? Misalnya, ingat Tegal, maka Anda ingat warteg nya.

Selain itu, ada juga Komunal Brand milik komunitas kabupaten kota seperti Batik Cirebon, Rawon Nguling, Sate Madura, dan lainnya. Uniknya, langgeng tidaknya sebuah Komunal Brand ditentukan oleh komunitasnya sendiri.

Kalau Loempia Semarang hilang dari Semarang, maka yang salah adalah orang Semarang. Kalau Batik Cirebon hilang dari Cirebon, maka yang salah adalah orang Cirebon. Kalau setiap nama desa menjadi Komunal Brand karena keunikan masing-masing ├▒dan kita memiliki hampir 75.000 desa, maka kita akan memiliki 75.000 brand.

Apakah kota atau desa Anda memiliki sesuatu produk / brand yang menjadi milik bersama? Silakan dipikir-pikir dahulu.

Apabila produk khas kota atau desa Anda hilang dan Anda tidak merasa kehilangan, maka dia tetap merupakan produk saja. Apabila produk khas kota / desa Anda menghilang dan Anda merasa kehilangan, maka sesungguhnya dia sudah menjadi Komunal Brand.

Relakah Anda yang tinggal di Jakarta jika kerak telor, gado-gado, dan sop kaki Betawi hilang dari Jakarta? Relakah orang Palembang kalau sampai pempek Palembang hilang dari Palembang?

Relakah Anda orang Bogor kalau asinan Bogor dan Tales Bogor hilang dari Bogor? Relakah Anda orang Makasar kalau Palubasa, Palubutung, Coto Makasar hilang dari Makasar?

Anda tentunya tidak akan rela. Mengapa? Karena produk-produk itu semua sudah melekat dengan daerah Anda. Kehilangan produk-produk di atas sama saja kehilangan sebagian dari diri Anda. Katakanlah misalnya pemerintah kota Anda ingin menghilangkan produk-produk di atas, bisa jadi akan ada gelombang protes yang besar.

Bicara Komunal Brand saya jadi ingat sop kaki Betawi jalan Blora yang sekarang sudah tidak ada. Dulu ada kira-kira 40 warung yang menjual sop kaki dengan Komunal Brand BETAWI. Semua pakai brand Betawi dan tidak ada yang protes.

Ini adalah sebuah kolaborasi yang apik. Bahkan ketika salah satu warung kehabisan torpedo, ia bisa pinjam warung sebelah. Mereka taruh Individual Brand di belakang Komunal Brand sop kaki Betawi. Dan uniknya semua pakai brand kumis.

Hebatnya pula, satu sama lain tidak berebut pelanggan. Apalagi sampai perang harga. Inilah indahnya Komunal Brand.

Mempertahankan Komunal Brand suatu daerah diperlukan semangat kolaborasi untuk bersatu bertahan dari serangan brand / produk luar. Terkait MEA 2015, saya yakin dengan semangat gotong royong para pelaku UKM. Mereka pasti siap berkolaborasi memperkuat Komunal Brand mereka masing-masing demi menghadapi MEA 2015.

Jumlah UKM kita banyak sekali. Menurut apa yang saya tahu, pada tahun 2013 jumlah UKM kita sudah mencapai 56,5 juta unit. Ini bukan jumlah yang main-main. Tidak mungkin dari 56,5 juta UKM ini semuanya tidak ngeh dengan pentingnya kolaborasi demi menghadapi MEA.

Saya yakin mereka akan bersatu-padu menghadapi MEA 2015 yang akan datang sebentar lagi. Ya, saya yakin.

Penulis: Subiakto Priosoedarsono