Antara Pakar dan Praktisi

images

Pakar dan Praktisi ada di semua bidang profesi didunia ini. Nah. Apa yg membedakan keduanya?

Ada pakar kuliner yang akademisi dan punya pengetahuan luas tentang resep2 kelas dunia serta food technologynya. Ada praktisi kuliner yang disebut chef yang tugasnya didapur menciptakan makanan dari resep yang di ciptakan oleh pakar kuliner.

Ada pakar bangunan yang kita sebut arsitek. Sekolahnya tinggi. Referensi bukunya banyak. Ada praktisi bangunan yang cuma tukang batu tapi dialah yang merealisasikan blueprint diatas kertas menjadi bangunan diatas tanah.

Didunia keris ada juga pakar keris. Akademisi. S2nya dari universitas di Leiden Belanda. Tau tentang seluk beluk keris. Sejarahnya. Pamornya. Tapi belum pernah bikin keris. Yang tukang bikin keris ya si empu. Praktisi yang menguasai semua teknik pembuatan keris termasuk bila terjadi kesulitan2 saat proses pembuatan.

Demikian juga didunia branding. Banyak pakar branding yg sekolah tinggi. S2 di universitas terkemuka di luar negri. Referensi bukunya banyak tapi belum pernah bikin brand. Para pakar brand ini mengajarkan teori2 orang yang diambil dari referensi buku2nya. Bahkan banyak yang menulis buku dan wajib mencantumkan buku2 yang menjadi referensinya.

Praktisi bisa jadi tau sedikit saja tentang teori brand. Tapi sudahbikin banyak brand. Kenyang dgn masalah2 yg tdk diajarkan oleh teori.

Kalau gak salah ada istilah ceteris paribus yang artinya kira2 dengan syarat tidak terjadi perubahan ketika di implimentasikan (cmiiw). Menjelaskan bahwa sebuah teori hanya bisa dijalankan dalam suatu keadaan yang tidak berubah alias stabil.

Nah, dengan demikian para pakar itu ibarat mengajarkan jalan protokol bebas hambatan. Teori memang tidak mengajarkan jalan tikus yang harus diambil ketika terjadi kemacetan lalu lintas.

Jalan tikus itu milik praktisi. Ada pepatah mengatakan β€œTheori is a recorded experience”. – Teori tidak lain merupakan PENGALAMAN yang di rekam atau ditulis. Yang punya pengalaman ya praktisi. Berarti sesungguhnya praktisi lah yang melahirkan teori.

Saya cuma praktisi brand yang mengajarkan jalan tikus untuk mengatasi kemacetan, yang tidak diajarkan dalam buku2 referensi.

Maaf kalau saya katrok hahaha